Share

6 Kesurupan Masal

Fikirku melanglang buana mencari sebuah jawaban yang sejak satu pekan ini tak kudapatkan dari kakek. Tentang orang-orang yang mengincarku serta rahasia yang ditutup-tutupi oleh Abah dan Mamah.

"Neng, ada Mang Burhan datang berkunjung. Katanya mau bertemu sama Neng," tegur mamah yang berdiri di ambang pintu kamar. Aku pun segera beranjak menghampiri tamu yang katanya ingin bertemu denganku itu.

Kutangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai sapaan pada pria paruh baya yang tengah duduk berbincang dengan Abah di kursi tua yang ada di ruang tamu. "Bagaimana kabar Bu Burhan sekarang, Mang?" tanyaku basa-basi.

"Alhamdulillah Neng, berkat Neng istri saya sudah sembuh seperti sedia kala," ujarnya sumringah.

"Hakekatna karena Allah, Mang. Abdi mah ngan saukur perantara, Allah nu langkung uninga sareng anu ngagaduhan tapak damel," sanggahku meluruskan. Aku hanya perantaranya saja.

(Hakikatnya karena Allah. Saya hanya sekedar perantara, Allah yang lebih tahu dan hanya dia yang memiliki kehendak atas segalanya)

Mang Burhan menyodorkan amplop putih ke arah depan. Aku sendiri menautkan kedua alis dan menatap Abah yang juga balas menatapku. "Ini hanya sekedar rasa terimakasih saya sama Neng karena membantu istri saya. Tolong diterima, Neng.”

"Tidak perlu repot-repot, Mang. Saya ikhlas menolong istri Amang. Saya tahu rasanya saat keluarga kita mendapatkan perlakuan keji seperti itu, saya juga pernah merasakannya," tolakku halus.

Mang Burhan tampak berpikir sejenak, "ini bukan imbalan, Neng. Ini sebagai bentuk rasa bersyukur keluarga saya atas sehatnya istri saya.”

"Terima saja, Nyimas," timpal Abah.

Dengan ragu kuambil amplop itu serta tak lupa mengucapkan terima kasih pada Mang Burhan. Ternyata tak hanya amplop itu saja yang dikirim beliau ke rumah ini. Beberapa bahan makanan seperti kelapa, agar-agar mentah, gula merah, dan lain sebagainya turut dikirimkan sebagai ungkapan terima kasih.

"Bah," panggilku setelah Mang Burhan pamit undur diri.

"Ya, Nyimas.”

"Yang ngincar Nyimas itu siapa? Terus maksudnya yang buyut Siliwangi itu apa?” tanyaku entah yang keberapa kali selama tiga minggu aku tinggal di sini.

Abah tersenyum, lalu mengelus punggung tanganku. "Yakin, mau tahu?" tanyanya. Aku mengangguk seraya tersenyum.

"Mereka itu dukun penganut ilmu hitam yang sejak jaman nenek moyang dulu memusuhi kita, Neng. Alasannya Abah sendiri kurang tahu, tetapi katanya leluhur mereka porak poranda di tangan salah satu keturunan Prabu Siliwangi," jelas Abah.

"Hubungannya denganku apa? Bukankah itu cerita masa lalu, lalu kenapa mereka masih memupuk dendam itu hingga sekarang?"

Abah menghela nafas dalam. Pandangannya lurus menerawang entah ke mana. "Mereka tidak bisa menerima kekalahan, itu sebabnya mereka mengincar Nyimas yang merupakan keturuan termuda. Mereka tahu kalau Nyimas masih rentan dan mudah untuk digapai. Namun, mereka salah besar karena mereka tidak tahu kalau sejak dalam rahim, Nyimas mendapatkan penjagaan dari semua leluhur."

Aku mangut-mangut meski sebenarnya tak paham dengan penjelasan beliau. Aku memang pernah membaca artikel tentang Raja Kerajaan Pasundan itu, tetapi tidak pernah menyangka jika aku memiliki hubungan darah dengannya.

"Ingat! Jangan sampai lalai dalam membentengi diri dari mereka yang syirik dan dengki pada kita. Terutama jika kamu sedang halangan. Kamu harus lebih hati-hati karena biasanya saat itu kondisimu lemah dan akan mudah bagi mereka untuk mengganggumu." Nasihat Abah sebelum beranjak hendak ke masjid.

***

Bakda isya aku bersama Ayu dan Silfi melihat anak-anak marawis yang tengah berlatih untuk menyambut Isra Miraj yang akan diadakan dua minggu lagi. Tak hanya itu saja, santri lain sibuk menyiapkan perlombaan yang akan diadakan mulai besok malam.

Bibirku tersungging saat melihat Kang Fakhri yang tengah melatih para santri baru memainkan satu persatu alat marawis bersama santri senior lainnya. Ternyata selain suaranya yang merdu dia juga pintar memainkan alat marawis.

"Teh, bisa tolong bantu membuat soal untuk cerdas cermat, gak?" Sebuah tepukan pelan di bahu membuatku mengalihkan pandangan ke arah samping.

Aku tersenyum saat mendapati Risma yang menegurku tadi. "Iya, bisa, ayo." Kami segera beranjak meninggalkan aula menuju kelas satu sanawi. Di sana sudah ada dua santriah lain yang juga tengah menyusun teks pidato yang akan dibagikan untuk anak-anak tingkat diniyah.

Kami berdua mulai menyusun pertanyaan yang akan diajukan untuk cerdas cermat yang akan diadakan di malam terakhir perlombaan. Cukup lama kami menyusun satu persatu pertanyaan dari beberapa kitab yang sudah diajarkan.

"Alhamdulillah!" ujar kami serempak saat semuanya selesai. Aku pamit dan kembali menghampiri Ayu di aula tempat latihan marawis. Namun, Ayu sudah tidak ada di sana. Anak-anak marawis juga satu persatu sudah meninggalkan tempat, dan hanya ada beberapa santri senior yang sedang merapihkan alat marawis.

Aku berbalik hendak meninggalkan tempat itu sebelum akhirnya sebuah sapaan menghentikanku. "Belum pulang?" sapanya.

Aku menoleh sekilas dan kembali memfokuskan pandangan ke arah ujung kaki yang tampak sedikit dari ujung gamis yang digunakan. "Iya, tadinya saya pikir Ayu masih di sini," sahutku.

"Dia sudah pulang ke kobong satu jam yang lalu," kata Fakhri memberi tahu.

"Ya, kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum." Kubalikkan kembali tubuh dan menuruni satu persatu undakan tangga.

"Siapa, Kang?" Samar kudengar seseorang bertanya pada Kang Fakhri.

"Cucunya Ceng Ilham," jawab Fakhri.

"Cantik, ya." Hening. Fakhri tidak menanggapi seruan dari temannya itu.

Hembusan angin menyapaku saat berjalan di halaman depan pondok untuk kembali ke rumah. Rasanya ada yang aneh, tetapi aku tidak tahu apa itu. Kuhiraukan sekitar dan melanjutkan langkah.

Seperti biasa aku membaringkan tubuh setelah mengambil wudhu sebelumnya. Entah baru berapa jam tertidur, suara benturan seperti batu yang dilemparkan ke dinding membuatku terjaga. Inisiatif aku mengintip dari celah jendela kamar. Tidak ada apa pun, hanya terlihat gelap saja. Mungkin ranting jatuh, pikirku positif.

Kuletakkan satu tangan di atas bantal seraya berusaha memejamkan mata kembali. Namun, sekelebat wajah Kang Fakhri tiba-tiba saja muncul hingga terpaksa aku pun kembali mendudukkan diri dan beberapa kali mengucap istigfar.

"Apa aku menyukai pemuda itu? tapi, bagaimana mungkin. Kami hanya bertemu beberapa kali, itupun tanpa sengaja. Ini tidak benar Sri! Dia mungkin sudah memiliki calon istri," gumamku menasehati diri sendiri.

Mataku akhirnya kembali terpejam setelah beberapa saat, dan lagi-lagi suara berisik dari luar menganggu. Kali ini suaranya bukan seperti benda yang dilempar ke dinding seperti tadi. Namun, suara seseorang yang tengah mengobrol di depan.

"Aya naon, Bah?" tanyaku menghampiri Abah yang tengah mengobrol dengan Fakhri di depan pintu masuk.

"Katanya ada kesurupan masal di kobong satu." Aku terperanjat kaget mendengarnya. Bagaimana bisa?.

"Neng, ayo atuh bantu Mamah." Suara Mamah membuyarkan lamunanku. Segera kuraih baju hangat di atas tempat tidur dan menyusul di belakang Mamah dan Abah menuju kobong santri.

(Kobong=Asrama tempat tidur para santri)

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status